Kamis, 31 Januari 2013

GUNUNG API



Aktivitas batuan beku di Kepulauan Indonesia di beberapa tempat yang secara stratigrafi terletak pada batuan berumur tua hanya dijumpai dalam bentuk intrusi abisal dan hipabisal. Namun demikian aktivitas vulkanisma secara umum merupakan salah satu proses utama dalam perkembangan geologi kepulauan ini.
Kepulauan Indonesia adalah salah satu daerah gunungapi di dunia yang memiliki lebih dari 500 gunungapi muda dan 177 di antaranya aktif. Pengelompokan gunungapi ini terdiri dari gunungapi aktif dalam waktu sejarah, tahap solfatar dan fumarol dan lapangan solfatara-fumarol. Untuk Indonesia tahun 1600 diambil sebagai batas praktis untuk membatasi waktu sejarah menyebutkan gunungapi tersebut aktif atau tidak. Penyebutan ini sebenarnya relatif, karena boleh jadi suatu hari gunungapi yang pasif akan aktif lagi.

PRODUK LETUSAN GUNUNGAPI

Gunungapi-gunungapi di Kepulauan Indonesia menunjukkan tingkat letusan yang tinggi, dicirikan dengan material lepas yang dominan dibandingkan dengan seluruh material vulkanik yang keluar. Ritmann menghitung angka indeks erupsi gunungapi (IEG) dari Asia sekitar 95%, Filipina-Minahasa lebih dari 80%, Halmahera lebih dari 90%, Papua New Guinea lebih dari 90%, Busur Sunda sekitar 99%. Harga tertinggi IEG dalam sejarah tercatat pada letusan Tambora tahun 1815. Hal ini menunjukkan bahwa letusan yang kuat merupakan karakter dari gunungapi tipe orogen.

Breksi Gunungapi
Penamaan lahar pertama kali digunakan di Indonesia untuk menyebutkan breksi gunungapi yang ditransport oleh air. Istilah tersebut sekarang telah digunakan dalam acuan-acuan geologi dan vulkanologi. Lahar merupakan aliran lumpur yang mengandung material rombakan dan bongkah-bongkah menyudut berasal dari gunungapi. Endapan lahar mampu mencapai ketebalan beberapa meter sampai puluhan meter. Fragmen-frahmen penyusun terletak diantara matriks yang membulat sampai menyudut. Bongkah lava yang tertransport dapat mencapai beberapa meter kubik. Lahar dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu lahar dingin dan lahar panas. Lahar dingin tidaklah secara khusus berhubungan dengan aktivitas gunungapi. Ia dapat dipicu oleh hadirnya hujan di atas normal pada lereng yang tertutup oleh material lepas. Contoh lahar yang dipicu oleh hujan antara lain terdapat pada pelaharan G. Merapi yang mempunyai kisaran sebaran 25-30 km, serta lahar G. Raung mencapai jarak 40 km. Lahar dingin ini juga dapat dipicu oleh gempa, misalnya yang terjadi di Bengkulu pada tahun 1933. Lahar panas dapat disebabkan oleh pengosongan danau kawah, baik karena pembentukan kawah oleh amblesan maupun letusan. Letusan danau kawah akan menyebabkan arus lumpur panas, sehingga air akan bercampur dengan material gunungapi yang panas. Contoh pembentukan lahar ini terjadi di G. Kelud.
Guguran abu vulkanik di lereng gunungapi disebut ladu. Ladu merupakan campuran fragmen lava, dengan pasir dan abu yang dibentuk dari kubah aktif atau aliran lava. Ladu akan disebut sebagai awan-panas guguran ketika volume yang digugurkan menjadi besar dan terdiri dari bongkah lava membara merah pijar dan bergerak cepat. Apabila jumlah material yang gugur sangat besar, maka diasumsikan awan-panas guguran ini sudah merupakan karakter dari awan-panas letusan (Lacroix, 1930). Distribusi guguran gunungapi sangat dipengaruhi oleh topografi lokal. Guguran ladu cenderung mengikuti lembah; sementara guguran awan-panas akan menerjang melintasi lembah dan punggungan.
Suhu awan-panas di bagian dalam sangat tinggi, sementara di bagian tepi lebih cepat mendingin, sampai di bawah 450° C. Aliran awan-panas mampu menghanguskan tumbuh-tumbuhan, berbahaya bagi manusia dan hewan, serta merusak paru-paru. Suhu ladu relatif tinggi, diasumsikan suhu awal setingkat aliran lava antara 800°-1000° C. Setelah di kaki kerucut gunungapi suhu menurun menjadi 400o-450oC. Hartmann (1933) mengemukakan bahwa ladu G. Merapi mengandung COS, campuran berasal dari material organik dan belerang pada suhu di atas 400° C.
Hujan menyebabkan munculnya letusan sekunder yang kuat di endapan ladu baru. Ini merupakan hasil dari pembentukan uap air suhu tinggi, dan juga akibat oleh reaksi: COS+H20-CO2 t+H2S t+q (koefisien pemanas).
Neuman van Padang (1933) mengemukakan bahwa kecepatan jatuhan batu sekitar 30-35 m/detik pada kemiringan 35°, sedang kecepatan awan-panas guguran berawal dari 15-20 m/detik. Apabila terjadi peningkatan suhu lava dari 850°C menjadi 950°C, serta peningkatan kandungan gas, maka lava didorong ke luar oleh letusan kecil, sehingga masuk dalam kategori awan-panas letusan (Lacroix, 1930). Kecepatan awan-panas jenis ini sekitar 30-40 meter/detik, melebihi kecepatan guguran kubah lava. Penghancuran bongkah lava panas sepanjang peluncuran mendorong keluarnya gas yang tertekan. Efek dari pelepasan gas dan udara panas ini menjadikan tidak terjadi gesekan antar fragmen padat batuan. Ini menyebabkan selama terjadi awan-panas tidak terjadi bunyi bergemuruh.
Lacroix, Escher, dan Neuman van Padang telah menggolongkan awan-panas dari beragam aliran bongkah, pasir dan abu di lereng kerucut gunungapi. Semua awan-panas menunjukkan tipe guguran selama fase awal dan fase akhir dalam siklus erupsi, atau tipe letusan selama fase utama atau fase gas. Awan-panas ini naik tegak lurus ke atas, dan pada waktu yang sama suatu awan-panas menurun sepanjang lereng kerucut. Letusan memberikan jejak berbentuk kembang kol yang membubung ke atas.
Kerucut gunungapi muda mempunyai struktur labil sehingga mudah longsor dan membentuk rombakan di kaki lereng. Contoh kasus ini terdapat di G. Raung dan G. Galunggung. Di G. Raung, longsoran gunungapi membentuk bukit-bukit kecil di kaki gunungapi. Semula bukit-bukit ini dianggap pusat erupsi parasiter, tetapi Neuman van Padang (1939) membuktikan bahwa bukit tersebut merupakan sisa-sisa retas lava sepajang 60 km. Di sekitar G. Galunggung terdapat 3.600 bukit-bukit kecil yang dikenal dengan Perbukitan Seribu. Total volume bukit 142.4 juta m3, atau hanya 1/20 dari total volume sektor yang longsor. Pembentukan perbukitan ini diasumsikan terjadi karena kaldera dengan dinding tipis yang tersisa didorong ke luar, maka serakan dinding kaldera membentuk bukit-bukit di kaki gunungapi. Peristiwa di G. Raung dan G. Galunggung ini mungkin merupakan longsoran sangat besar yang kejadiannya dipicu oleh gempabumi, pembentukan retakan, guguran vulcano-tectonic, atau oleh erupsi ultra-volcanicseperti yang terjadi di Bandai-Sandi Jepang.

Pasir dan Debu Gunungapi
Breksi gunungapi nampak seperti hasil dekomposisi sekunder, penghancuran ekstrusi lava primer, pasir dan debu gunungapi. Transisi antara keduanya dibentuk oleh awan-panas dari ladu. Endapan seperti itu sering ditemukan di sekitar depresi volcano-tectonicseperti Toba dan Ranau di Sumatra. Endapan ini tidak disebarkan melalui udara, tetapi oleh aliran tufa mengikuti relief topografi. Aliran tufa ini dapat mencapai ketebalan beratus-ratus meter, dan endapan bagian bawah kadang terlaskan oleh proses auto-pneumatolitic,sebagai pembentukan ignimbrit. Endapan tersebut biasanya dihubungkan dengan erupsi celah jenis Katmaian.
Pasir dan debu akan tersebar di sekitar pusat erupsi gunungapi. Variasi endapan tersebut dengan breksi dan aliran lava akan membentuk struktur perlapisan (strato-volcanoes). Setelah letusan, abu vulkanik yang menutup permukaan. Pengendapan kembali abu vulkanik ini membentuk aliran lumpur dingin atau lahar di kaki gunungapi. Komposisi debu vulkanik yang dijatuhkan berubah sesuai dengan jarak dari pusat letusan. Unsur yang berat, seperti piroksen, ampibol dan bijih jatuh di dekat gunungapi, sedangkan partikel-partikel ringan dan gelas menyebar lebih luas.

Aliran Lava
Oleh karena explosivitas yang tinggi, breksi dan debu menjadi produk utama gunungapi di Indonesia, namun aliran lava juga merupakan gejala yang umum dijumpai. Contoh terbaru, lava mengalir dari celah pada G. Batur pada tahun 1926 (Stehn, 1928) dan aliran lava parasitik terjadi di G. Semeru pada tahun 1941 (Bemmelen, 1948). Tingkat kemampuan pengaliran sangat bervariasi. Aliran lava G. Merapi selama November-Desember 1930 rata-rata 300.000 m3per hari, sedang pada tahun 1942-1943 rata-rata 12.000-15.000 m3per hari.
Aliran lava panas relatif dinamis, mengikuti lembah sungai sebagai aliran, atau berlembar seperti tirai lava hasil erupsi fase B dari Tangkuban Prahu. Aliran lava dalam viskositas rendah dapat berbentuk lorong lava, sebab inti cairan lava terus mengalir setelah pembekuan mantel sebelah luar. Van Den Bosch (1941) mendeskripsikan contoh aliran lava andesitik ke dasitik yang jauh lebih kental, sehingga membentuk lidah lava.

Kubah Lava
Sifat kekentalan magma meningkat sebanding dengan penambahan kandungan silika. Sebagian andesit dan dasit yang sangat asam, akan mudah membentuk kubah, yang kadang-kadang disertai dengan lidah lava tebal menonjol pada bagian bawahnya. Banyak contoh dapat ditemukan di Indonesia, misalnya di erupsi Galunggung 1918, Kelud 1920, dan Merapi. Sekitar 40 kubah lava di Indonesia telah dideskripsi menjadi beberapa tipe. Hartmann menaksir bahwa separuh jumlah gunungapi aktif memproduksi kubah lava dengan kandungan 55% Si02, miskin gas, dan dengan suhu sekitar 95oC.
Bentuk kubah dipengaruhi oleh konfigurasi dari tempat lava diekstrusikan. Kubah tumbuh seiring dengan penambahan energi dari dalam sehingga luar lapisan sangat diregangkan. Akan terjadi semacam stratifikasi mantel berurutan yang paralel dari luar ke dalam dengan ketebalan sampai beberapa meter. Kubah yang terbentuk mempunyai kemiringan kubah antara 35°- 40°. Akhir pembentukan kubah lava akan membentuk depresi di bagian puncaknya. Depresi ini merupakan hasil berbagai faktor, seperti penyusutan oleh pendinginan, atau berhentinya tekanan ke atas.

JENIS AKTIVITAS GUNUNGAPI

Kepulauan Indonesia menunjukkan adanya aktivitas gunungapi yang mempunyai cakupan luas. Mulai dengan ketenangan solfatara dan fumarole, dan meningkat secara ritmik, sehingga pelepasan energi di kawasan ini dapat dipelajari, termasuk letusan yang tidak terduga dari Tambora pada tahun 1815 dan Krakatau pada tahun 1883.

Aktivitas Solfatara dan Fumarol
Aktivitas solfatara dan fumarole mencerminkan kenaikan kandungan gas ke permukaan. Separuh pusat gunungapi aktif di Indonesia (89 dari 177) menunjukkan gejala ini.

Letusan Freatik
Letusan yang freatik terjadi karena adanya penambahan material gas yang mudah menguap (air, gas sulfur, karbondioksida dan semacamnya) yang berada di atas tubuh batuan beku yang panas, tetapi tidak diekstrusi oleh batuan tersebut. Contoh erupsi ini terjadi pada erupsi lumpur Kawah Baru di G. Papandayan pada kawah 1923 (Taverne, 1925), dan di Suoh pada tahun 1933 (Stehn, 1934). Erupsi freeatik Suoh memberikan pemahaman yang luar biasa. Pertama, letusan freatik yang dipicu oleh gempa bumi tektonik sangat jarang terjadi. Kedua, merupakan letusan freatik terbesar yang pernah diamati. Total jumlah lumpur yang dierupsikan sekitar 210 juta m3, menutupi daerah 35 km2dengan ketebalan lapisan lumpur di pusat erupsi sekitar 20 m. Stehn mengkalkulasi kedalaman letusan mencapai 270 m.

Gunungapi Orogen
Gunungapi orogen normal memproduksi material magmatik alkali kapur, yang bervariasi dari erupsi eksplosif paroksismal tipe Plinian, sampai effusif lemah berupa sumbat lava. Jenis aktivitas gunungapi terutama tergantung pada dua faktor: a) sifat alamiah magma dan dinamika gas di dalamnya, dan b) komposisi kimia batuan, dan hubunganya dengan kandungan gas.
Escher (1933) menunjukkan bahwa karakter letusan terutama ditentukan oleh tekanan gas dan sifat kekentalan. Letusan Merapi merupakan prototipe aktivitas dari gunungapi tipe orogen di Indonesia. Gunungapi ini menunjukkan variasi karakter letusan yang beranekaragam. Kadang bersifat paroksismal dan meletus dengan waktu singkat dan kesempatan lain lava kental menerobos keluar pelan-pelan dari lubang konduitnya. Komposisi kimia dari lava, bagaimanapun, hanya sangat sedikit variasi dalam periode historis ini (54-55% Si02), sedemikian sehingga yang sifat kekentalan boleh berbeda dengan suhu tetapi sebenarnya relatif konstan.
Hartmann (1935) menggolongkan letusan Merapi ke dalam empat kelompok, berdasarkan isi gas dari letusan magma. Empat kelas ini menjadi proto-types dari gunungapi tipe orogen normal dengan produk batuan beku alkali kapur menengah. Secara umum, kelas A tidak menyebabkan letusan utama. Pada kelas B krisis mengikuti suatu fase awal, biasanya cukup waktu untuk pengungsian dan ukuran pencegahan lain. Yang paling berbahaya adalah letusan dari jenis C dan D, dengan pelepasan energi utama gunungapi tidak lama setelah permulaan siklus letusan.

Tabel 1: Penggolongan Erupsi Gunungapi (Hartmann)
Kelas A    Wujud letusan sedikit / miskin gas. Fase awal dimulai dengan satu letusan kecil yang mengawali ekstrusi lava. Fase utama berupa pembentukan kubah lava dengan kecepatan 12.000 – 30.000 m3 per hari, sampai kubah mencapai volume besar, dan kemudian pertumbuhan kubah berhenti. Siklus diakhiri dengan proses guguran lava pijar yang berasal dari kubah. Kejadian guguran lava pijar dan awan-panas kecil dapat berlangsung.
Kelas B    Wujud letusan lebih cukup banyak gas. Siklus diawali dengan adanya kubah lava sebagai batuan penutup kawah. Fase awal dimulai dengan letusan kecil yang menghancurkan batuan penutup. Fase utama berupa letusan tipe Vulkano yang bersumber di kubah lava dan menghancurkan kubah lava yang ada. Letusan menghasilkan asap letusan Vulkanian. Sebagian material kubah yang hancur manjadi awan-panas yang menyertai letusan tersebut. Fase akhir diisi dengan aliran lava kental atau pertumbuhan kubah lava baru pada bagian kubah atau di samping kubah yang hancur.
Kelas C    Wujud letusan lebih banyak gas. Fase awal dimulai dengan adanya sumbat lava (bukan kubah lava) yang menutup kawah. Fase utama berupa letusan tipe St Vincent yang menghasilkan lubang baru. Fase akhir diisi dengan aliran lava, lidah lava, atau pertumbuhan kubah lava baru pada bagian kubah yang hancur. Jangka waktu letusan bervariasi, tetapi biasanya singkat. Ketika tekanan gas telah diturunkan oleh letusan ini, magma kental naik ke lubang konduit, sehingga menyebabkan suatu fase akhir dengan aliran lidah lava atau pembentukan suatu kubah lava.
Kelas D    Wujud letusan lebih sangat kaya gas. Fase awal berupa letusan kecil yang melemparkan isi kawah. Fase utama berupa letusan tipe Perret yang langsung menyembur dan menghancurkan bagian atas tubuh gunungapi. Fase akhir diisi dengan aliran lava mengisi bagian tubuh gunungapi yang hancur. Pentingnya awan-panas yang menyertai erupsi ini sangat kuat, sebab puncak dari gunungapi adalah sering sebagian dirusak sepanjang fasa-utama dan material tua, begitu menambahkan kepada material baru, maka akan meningkatkan volume ladu dan menyertai awan-panas sepanjang fase erupsi.

Letusan Plinian
Letusan paroksismal paling kuat aktivitas gunungapi dimiliki oleh tipe Plinian. Salah satu contoh dikenal terbaik adalah letusan Krakatau pada tahun 1883 yang diuraikan Verbeek (1885), juga Escher (1919) dan Stehn (1929). Gentilli ( 1948) mempelajari kemungkinan efek dari letusan Krakatau 1883 pada iklim dunia.
Salah satu dari bencana gunungapi yang terbesar di zaman sejarah menjadi letusan dari Tambora pada 1815. Selama letusan ini tentang 150 juta m3produk gunungapi dikeluarkan dan menyebabkan 92.000 korban yang merupakan seperempat total korban dari letusan gunungapi di dunia.

Letusan Katmaian
Di Indonesia tidak ada letusan jenis Katmaian. Letusan pernah terjadi pada zaman Holosen di Pasumah dan Toba. Studi mendalam aliran tufa liparit dan lava liparit akan mungkin mengungkapkan bahwa letusan celah itu jenis Katmaian, yang memproduksi ignimbrit.
Menurut Westerveld (1942) ignimbrit Pasumah di Sumatra Selatan juga merupakan aliran tufa riolitik yang terlaskan. Kristalisasi epigenetik gelas dari endapan tufa, dengan pembentukan albite sekunder dan tridimite dimasukkan sebagai pneumatolitik pada suhu 600° dan 400oC atau lebih rendah. Tufa Tuba di Sumatra Utara dikenali sebagai ignimbrit. Ignimbrit ini juga dikenali sebagai quartz-trachytes, quartz-trachyte-andesites, liparit, tufa liparit, atau riolit, yang pada dasarnya semua adalah batuan piroklastic. Tufa Toba tersebut menutupi kawasan seluas 20.000-30.000 km2dan jumlah material yang secara umum disebut piroklastik ini terdiri dari kira-kira 1.500-2.000 km2.

Gunungapi Baru
Di Kepulauan ini gunungapi baru jarang terbentuk di dalam zaman historis. Di tahun 1898 pembentukan maar terjadi di Perkebunan Kali Jeruk, kaki G. Lamongan.
Di tahun 1943, di G. Pegunungan di Timur Laut Papua, letusan gunungapi terjadi pada suatu tempat sebelumnya tidak ada gunungapi aktif direkam, meskipun demikian ada laporan bahwa ada aktivitas solfatar di daerah ini.

Aktivitas Gunungapi Bawah Laut
Neuman van Padang (1938) menyebutkan pusat aktivitas gunungapi bawah laut berikut di Kepulauan Indonesia dan tetangganya.
Karakter dari suatu letusan sebagian besar ditentukan oleh sifat kekentalan dari magma dan tekanan gas. faktor yang membentuk tergantung pada komposisi kimia dan suhu. Magma subsilicatic basa sangat encer dibanding asam dan intermediet. Kita dapat menyusun berbagai jenis aktivitas gunungapi menurut tekanan gas dan yang sifat merekat di dalam tabel 2.

Tabel 2: Hubungan tekanan gas dan kekentalan lava
Kekentalan rendah    Lembar lava, dengan contoh pada basal Sukadana dan erupsi fase B dari G. Tangkuban Prahu    Stromboli, dengan contoh pada erupsi G. Batutara    Erupsi tipe Plinian, dengan contoh pada pembentukan kaldera G. Tambora 1815
Kekentalan menengah    Aliran lava, dengan contoh pada erupsi G. Batur 1926 dan G.Semeru 1941    Erupsi intermittent yang disebabkan oleh hujan dan awan panas, dengan contoh erupsi G. Semeru 1885 – 1913    Erupsi tipe Plinian , dengan contoh pada pembentukan kaldera G. Krakatau 1883
Kekentalan tinggi    Kubah lava, misalnya pada erupsi G. Galunggung 1918 dan G. Merapi 1940    Letusan yang disebabkan oleh hujan dan awan-panas dengan contoh di G. Merapi 1930-1935, 1942-1943    Erupsi tipe Katmai, dengan contoh erupsi pra sejarah di Posumah
    Tekanan gas rendah    Tekanan gas menengah    Tekanan gas tinggi
Klasifikasi    A    B-C    D

PERIODISITAS AKTIVITAS GUNUNGAPI

Contoh baik periodiditas yang teratur tidak dijumpai karena tidak ada pengamatan detil, tetapi juga karena variabilitas dari faktor eksternal. Meskipun demikian, pengamatan dari dekat kadang-kadang menunjukkan suatu kecenderungan siklus, yang mungkin ditafsirkan sebagai ungkapan suatu kecenderungan waktu periodisitas aktivitas gunungapi.

Krakatau
Suatu irama dengan perioda erupsi yang berabad-abad ditunjukkan oleh kelompok Krakatau. Disini terdapat tiga siklus deferensiasi magmatik yang sesuai dengan peningkatan kandungan silika dari produk erupsi, yaitu fase Krakatau purba, fase Rakata, fase Perbuatan dan fase Anak Krakatau. Deduksi teoritis ini mempunyai hubungan yang tegas dengan tindakan pencegahan terhadap ancaman Krakatau. Ini penting untuk mendukung rasa hormat pada ahli gunungapi. Kejadian meletusnya Krakatau menunjukkan bahwa letusan akan cenderung diikuti oleh pengrusakan, dan bahkan akan menyebabkan ribuan orang meninggal. Penganan jauh hari penting dilakukan untuk menghindari.

Semeru
Semeru menunjukkan kecenderungan yang berbeda dalam waktu tertentu dalam langkah-langkah aktivitasnya: antara periode aktivitas yang kita temukan, periode tidur musim istirahat, serta durasi untuk tiap-tiap orde. Tetapi periodisasi aktivitasnya berumur beberapa hari sampai beberapa bulan dipisahkan oleh interval istirahat.

Kelud
Periode istirahat G. Kelud 1-12 tahun. Secara periodik meletus, membuang isi danau kawah di puncaknya. Ini menyebabkan bencana akibat suhu solfatar pada banjir lahar yang melanda lahan subur dan pemukiman di kaki gunungapi.

BENTUKAN GUNUNGAPI

Klasifikasi genetis bentukan vulkanik dapat diberikan, dan mempunyai keuntungan bahwa itu memungkinkan kita menguraikan hubungan antara proses tektonis dan gunungapi.Hasil bentukan gunungapi dapat dikelompokkan ke dalam dua kelas utama, yaitu a) bentukan positif (protuberance), dan b) bentukan negatif (hollow). Kedua-duanya dapat dibagi menjadi dua sub kelompok, yaitu sub-kelompok gunungapi, dan sub-kelompok volcano-tectonic.
Bentukan Positif Gunungapi, terjadi karena volume magma yang dikeluarkan sama dengan volume magma yang menekan ke atas. Termasuk golongan ini adalah: lava shield di Sukadana, comulo volcanoes di Lampung, cinder cone di G. Lamongan, dan strato volcanoes G. Merapi. Bentukan Positif Volcano-tectonic terjadi karena volume magma yang ditekan ke atas melebihi volume material yang dikeluarkan di permukaan. Termasuk dalam kelompok ini adalah punggungan akibat injeksi lakolit dan pengangkatan geantiklin karena gaya magma endogen. Termasuk golongan ini adalah pengangkatan karena pembubungan lakolit di kompleks Mapas, pengangkatan karena pembubungan batolit di Batak tumor, serta pengangkatan geantiklin karena pembubungan astenolit, misalnya di perbukitan Barisan.
Bentukan gunungapi negatif terjadi ketika jumlah material yang disebarkan oleh letusan lebih besar dari material yang dikirimkan dan disimpan di dalam kawah. Bentukan negatif gunungapi terdiri dari bentukan letusan atau bentukan amblesan.
Bentukan negatif dapat terjadi karena kegiatan letusan dan amblesan. Bentukan karena letusan terjadi ketika material yang dipindahkan lebih banyak dibanding magma yang dikirimkan ke permukaan. Bentukan eksplosif ini dapat berupa maar, misalnya di Grati, dan kawah di banyak tempat. Bentukan amblesan (kaldera) misalnya di Tengger. Bentukan negatif Volcano Tectonic dapat terjadi karena rifft-structure dan subsidence-structure. Rifft-structures (barranco, sector-graben dan lainnya, yang disebabkan oleh runtuhan kerucut vulkanik, misalnya G. Surapati; disebabkan oleh pengangkatan kerucut, misalnya G. Merbabu, disebabkan oleh tectonic arching, G. Ringgit-Beser. Subsidence structure, misal G. Ungaran.
Tanakadate (1929) memerikan beberapa tipe kaldera, yaitu: a) Kaldera Kawah, terdapat di bagian puncak dan dengan bentuk relatif bulat, sehingga seperti kerucut terpotong. Contoh kaldera jenis ini terdapat di Tengger dan Batur. b) Kaldera Depreso berhubungan dengan gunungapi maupun kompleks gunungapi, tetapi tidak selalu berubungan dengan pusat erupsi. Contoh kaldera ini di Bantam. c) Tipe kerucut, berbentuk konkoidal yang merupakan hasil erupsi 2 kawah bersamaan, yang berbeda dengan 2 sebelumnya. Cekungan Pilomasin di Lampung merupakan contoh kaldera ini.

KOMPOSISI PRODUK GUNUNGAPI

Produk Batuan
Hampir seluruh gunungapi aktif di kepulaian Indonesia menghasilkan batuan yang berasal dari magma kapur alkali. Perkecualian hanya terdapat pada letusan G. Tambora di Sumbawa Utara pada tahun 1815 dan G. Batu Tara di Laut Flores yang leusitik (Hartmann. 1935; brouwer, 1940). Volkanisma orogen memproduksi batuan yang bervariasi mulai gabro, diorit dan tonalit. Komposisi diagram diferensiasi magma pada busur kepulauan Sunda menunjukkan hubunagn nilai Al (alumina), Fm (feromagnesian), dan Alk (alkali) dengan Si (silika).
Perubahan komposisi dalam perkembangan gunungapi terjadi secara bertahap dari basa (basaltik) ke asam (dasit liparit). G. Tanggamus di Sumatra Selatan pada erupsi awal menghasilkan lava basalt olivin yang mengandung SiO2antara 52 – 53%, yang diikuti tufa liparit yang mengandung SiO2 73%, dan diakhiri dengan sumbat lava latit yang mengandung SiO270%. (Van Bemmelen & Esenwein, 1932).
G. Krakatau di selat Sunda memiliki 3 siklus yang masing-masing dibatasi oleh amblesan besar. Batuan tertua terdiri dari andesit hipersten yang mengandung silika 70%. Pasca amblesan pembentukan kaldera, gunungapi ini menghasilkan batuan sangat asam yang mengandung 71% SiO2. Siklus magmatisma berikutnya dimulai dari basalt Rakata yang mengandung 50 % SiO2, dan mengalami peningkatan menjadi 53 %. Peningkatan silika ini diikuti erupsi G. Danan and G. Perbuwatan yang mengerupsikan lava yang mengandung Si02 lebih dari 60%.
Selama 2 abad kandungan SiO2G. Krakatau berkisar pada 69 %. Pada tahun 1883 siklus ini diakiri dengan adanya erupsi tipe Plinian yang memprodusi material lepas yang mengandung SiO2berkisar antara 64 – 67 %. Setelah erupsi besar tersebut, kandungan SiO2 kembali rendah dan secara bertahap meningkat kembali, sehingga menjadi sekitar 51 % pada pada tahun 1928, 52 % pada tahun 1930, dan 76 % pada tahun 1935.
Kelompok gunungapi Dieng di Jawa Tengah menunjukkan peningkatan keasaman yang jelas dalam tahapan perkembangan erupsinya (Neumann Van Padang 1936; Van Bemmelen 1937). Aktifitas magmatisma dimulai dengan basalt yang mengandung 51 – 52 % SiO2; diikuti dengan andesit hipersten yang mengandung 53 – 56 % SiO2, andesit hornblenda yang mengandung 57 % SiO2dan akhirnya andesit biotit yang mengandung 60,5 – 63 % SiO2.
G. Ungaran di dekat Semarang menunjukkan tiga tahap pertumbuhan yang dipisahkan oleh dua amblesan (Bemmelen 1941 dan 1943). Tahap pertama aktivitas gunungapi ini terjadi pada Pleistosen bawah sampai Pleistosen Tengah sebagai penyusun Formasi Damar. Pertumbuhan gunungapi tahap pertama ini memproduksi andesit basaltis sampai andesit biotit. Tahap kedua terjadi pada Pleistosen atas dan Holosen yang memroduksi andesites biotit yang mengandung 54 – 57% S02. Selanjutnya tahap terakhir gunungapi ini menghasilkan andesit horblenda yang lebih asam.
Kompleks Tengger di Jawa Timur juga menunjukkan peningkatan kandungsn Si02 selama evolusinya. Fase kontruksi pertama, G. Tengger purba memproduksi gabro, diorit gabro dan diorit yang mengandung 50 – 54 % Si02. Fase kontruksi kedua berupa aliran lava yang terjadi setelah amblesan sektor utara yang memanjang sampai selat Madura (yang kemudian dikenal dengan lembah Sapikerep). Lava ini memiliki viskositas rendah yang mengandung 51 – 56 % SiO2. Fase kontruksi ketiga terjadi setelah amblesan pembentukan kaldera Laut Pasir. Gunungapi yang ada di dalam kaldera Lautpasir tersebut memproduksi batuan yang mengandung 55 – 59 % Si02.
Di kawasan Toba, aktivitas gunungapi andesitik hadir sebelum dan sesudah erupsi liparit Toba. Sebelum erupsi besar liparit, andesit yang dierupsikan mengandung 55 – 62 % Si02. Erupsi besar mengandung liparit biotite – hornblende yang mengandung 67 – 69 % Si02. Pada akhirnya, pasca erupsi liparit, erupsi Toba memproduksi andesit yang mengandung 56- 58 % SiO2.

Ekshalasi dan Mata-air Panas
Memahami komposisi ekshalasi gunungapi dan pasca gunungapi, secara teoritis berhubungan dengan formasi magma, pneumatolitik dan metamorfisma hidrotermal, dan cebakan mineral.
Menurut A. Brun solfatar terpanas dari G. Papandayan yang bersuhu lebih dari 3.000oC tidak mengandung air, padahal sebagian besar yang ada di Indonesia berasal dari penguapan air. Geilmann & Biltz (1931) menyatakan bahwa endapan sulfur di solfatar G. Papandajan terdiri dari dua jenis sulfur. Sulfur sublimat berwarna kuning mengandung 99% sulfur murni, sedang sulfur abu-abu mengandung 94% sulfur murni. Ekshalasi pada ujung aliran lava di G. Batur setelah erupsi pada tahun 1926, menunjukkan suhu tinggi, antara 215o– 575o(Stehn, 1928). Hartmann (1933) menyatakan bahwa fumarola sekunder pada endapan awan panas mempunyai suhu mencapai 100° C. Gas keluar dengan telanan rendah dan menunjukkan adanya sublimasi sulfur, dan terdiri dari 90% air dengan beberapa persen CO2dan COS. COS dapat dibentuk oleh kontak C dan S pada suhu di atas 400°C. Kandungan COS yang tinggi di fumarola sekunder endapan awan panas Merapi menunjukkan bahwa gas ini telah dibentuk di dalam endapan itu. Produk sublimasi terutama belerang dan bercampur dengan oksida dan klor. Komposisi produk sublimasi tergantung pada suhu gas. Sebagai contoh, di solfatara sekunder dekat Maron membentuk klor pada suatu suhu 230oC.
Kajian mata air panas telah banyak dilakukan. Beberapa mata air panas di Indonesia berhubungan dengan aktivitas gunungapi, misalnya mata air panas di Cipanas yang bersuhu 44oC berhubungan dengan aliran lava G. Guntur. Begitu pula Danau kawah Idjen berisi berisi sekitar 40 juta m3air asam, sehingga danau kawah ini merupakan akumulasi air asam terbesar di dunia. Suatu analisa telah dibuat oleh Van Tongeren bahwa air asam danau kawah ini ini merupakan hasil reaksi air asam yang sangat kuat sebagai asam radikal yang melebihi oksida logam. Endapan jarosit terdapat di mata air Ciater dan di lereng Utara Tangkuban Prahu. Lokasi ini menghasilkan beratus-ratus ton jarosit dan potasium jarosites. Endapan sulfida dari gas gunungapi terdapat di G. Sawal. Di bagian dalam barranco, 500 – 650 m dibawah kerucut terdapat propilitisasi andesit piroksen.

 DISTRIBUSI GUNUNGAPI AKTIF

Distribusi Gunungapi Orogen
Kerabat Pacific selalu menghasilkan gunungapi tipe strato. Jalur dan kelompok gunungapi tersebut terdiri dari: (1) busur Andaman dan Nicobar; (2) busur Pegunungan Sunda (Sumatra, Jawa, Sunda kecil dan Banda); (3) Batu Tara - Emperor of China - Api; (4) Una – Una; (5) Minahasa – Sangihe; (6) Zona Manila; (7) Halmahera – Ternate; (8) busur Ruk di New Guinea; (9) New Guinea timur.
Sistem gunungapi muda di Indonesia secara umum konsisten pada dua geantiklin yang sejajar, di bagian dalam merupakan jalur gunungapi dan di bagian luar merupakan jalur bukan gunungapi (non vulkanik). Contoh jalur itu adalah busur luar Andaman – Nicobar – Sumatra Barat – Pegunungan bawah laut selatan Jawa – Sawu – Roti – Tanimbar – Kei – Seram – Maju

Distribusi Magma Mediterania
Distribusi magma Mediterania, selalu berada di bagian dalam geantiklin gunungapi. Distribusi terbesar yang dikenal sebagai “Maros – province” (VAN BEMMELEN, 193). Bagian selatan dari propinsi Mediterania ini terdapat di sepanjang Pantai Utara Jawa, termasuk Bawean di Laut Jawa, Sumbawa Utara dan Batu Tara, beberapa pulau di laut Flores dan Sulawesi Tenggara. Magma Mediterania berasosiasi dengan kondisi tepi paparan kontinen maupun samudra.

Gunungapi Rekahan Utama
Hubungan antara aktifitas dan kekar dan patahan lokal sangat erat. Kita dapat mencermati patahan dan kekar yang mendasari terbentuknya kerucut gunungapi, khususnya pada kerucut tunggal. Di Sumatra letusan magma asam Kuarter dengan tegas dihubungkan dengan keberadaan patahan Semangko di sepanjang puncak geantiklin Barisan. Westerveld (1994) menduga kehadiran gunungapi strato andisesit basaltis di Sumatra berhubungan dengan patahan memotong sumbu geantiklin, seperti halnya diusulkan Taverne (1926) untuk pulau Jawa. Namun hubungan ini tidak jelas. Gunungapi strato berkomposisi basaltis sampai intermediatebiasanya berada di puncak geantiklin dengan distribusi tidak beraturan. Boleh jadi tempat tersebut adalah lokasi paling sesuai untuk pembentukan gunungapi strato.
Terdapat beberapa contoh pola kelurusan gunungapi strato andesitik yang dipengaruhi struktur geologi lokal sehingg berposisi melintang terhadap arah geantiklin, misalnya kelurusan gunungapi (dari utara ke selatan) Ungaran – Soropati – Telomojo – Merbabu – Merapi di Jawa Tengah. Perkembangan gunungapi dari tua ke muda yang lebih jelas terdapat pada kelurusan gunungapi (dari utara ke selatan) Semangkrong – Grati – Kompleks Teng¬ger – Kompleks Djembangan – Kompleks Semeru di Jawa Timur. Namun demikian terdapat kelurusan gunungapi yang nampaknya tidak berhubungan dengan struktur geologi lokal, misalnya kelurusan gunungapi di Halmahera.

ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI

Aspek Sosial
Indonesia merupakan salah satu daerah gunungapi terbanyak di dunia, dengan 149 pusat erupsi. Sejak 1800 sekitar 135.000 orang meninggal, dan puluhan desa rusak karenanya. Di pulau Jawa letusan gunungapi menjadi ancaman yang sangat berbahaya karena penambahan dan jumlah penduduk yang besar.
Usaha-usaha pengurangan bencana dilakukan dengan berbagai cara, antara lain : (1) Membuat pos-pos pengamatan permanen yang dilengkapi dengan berbagai peralatan pengamatan dan geofisika di gunungapi-gunungapi paling berbahaya di pulau Jawa, misalnya di Papandayan, Merapi, Ijen dan Kelut. (2). Membuat peta-peta daerah bahaya untuk gunungapi paling berbahaya, berkenaan dengan bahaya awan panas dan lahar, misalnya di Merapi; serta perajahan jalur evakuasi bagi masyarakat sehinnga evakuasi mudah dilakukan. (3) Pembuatan bendung-bendung penampung dan pengarah lahar ke wilayah tidak berpenduduk. Ini dilakukan di Kelut. (4) Pembuatan terowongan untuk mengurangi ketinggian muka air kawah, sehingga mampu jumlah lahar panas.
Peramalan awan panas berdasarkan seismik dan tilting untuk mengetahui karakter dan waktu kejadian merupakan faktor penting dalam pengurangan dampak bahaya letusan gunungapi. Ketepatan peramalan ini penting bagi pelaksanaan evakuasi, karena biasanya hanya mempunyai waktu pendek sehingga tidak dapat diorganisasikan dengan baik. Untuk pelaksanaan evakuasi yang baik ini pula sangat perlu pemahaman topografi secara rinci dan sistem pengairan di lingkungan gunungapi.
Lahar merupakan hasil tidak langsung aktivitas gunungapi. Material lepas hasil erupsi di lereng gunungapi yang terkena hujan deras akan menghasilkan lahar atau aliran lumpur. Lahar dan banjir bandang akan menerjang kaki gunungapi.

Beberapa indikasi yang menunjukkan tanda-tanda bahaya gunungapi:
•    Meningkatnya frekuensi gempabumi lokal, yang secara umum hanya dapat didatakan oleh seismograf yang dipasang di dekat tubuh gunungapi.
•    Bertambahnya pembubungan kubah gunungapi yang dapat didatakan oleh tilt-meter
•    Memasuki masa waktu sesuai siklus yang biasanya terjadi pada gunungapi tersebut.
•    Terjadi peningkatan lava dalam konduit selama siklus erupsi, sehingga erupsi dalam fase gas akan menyebabkan terjadinya awan panas letusan (Nuées ardentes d’explosions vulcaniennes).
•    Ketidakstabilan kubah lava yang berada di puncak atau bagian tubuh kerucut, sehingga berpotenssi longsor membentuk ladu dan awan panas guguran (Nuées ardentes of the avalanche type )
•    Akumulasi abu gunungapi dan material lepas dilereng gunungapi yang terjal dapat berkembang menjadi lahar setelah terjadi hujan lebat
•    Perubahan perilaku mata air panas dan lapangan solfatar
•    Perubahan sifat magnetisma lokal
•    Munculnya suara-suara bergemuruh
•    Gempa bumi tektonik kuat yang dapat mendorong terjadinya erupsi gunungapi.
Aspek Ekonomi
Walaupan gunungapi suatu saatdapat menghadirkan bahaya, tetapi dalam jangka panjang menolong masyarakat di sekitarnya. Hujan yang cenderung turun deras akan menjadikan tanah lebih cepat lapuk dan menjadi lahan pertanian yang subur. Erupsi-erupsi berikutnya juga akan selalu memperbaiki kesuburannya. Kondisi ini yang menjadikan kawasan di lingkungan gunungaapi seperti Jawa dan Sumatra, cenderung lebih padat penduduk di banding non gunungapi seperti Borneo dan Papua.
Energi gunungapi yang sering dianggap ancaman, dalam beberapa hal justru bermanfaat. Hal ini misalnya terdapat pada pemboran di fumarola Kamojang, sekitar 30 kilometer timur laut Bandung. Salah satu pemboran pada kedalaman 66 m menghasilkan 8.300 kg uap air dengan tekanan 2 atmosfer dengan suhu 123° C. Tekanan tersebut dapat menghasilkan tenaga listrik 200 KW. Sumur yang lain dengan kedalaman 128 m mencapai tekanan 6 atmosfer. Ada banyak fumarol lain yang sebanding dengan Kamojang yang dapat digunakan sebagai sumber energi gunungapi.
Batuan gunungapi dan mineral digunakan untuk tujuan industri. Hasil yang didapatkan dalam bentuk belerang. tras, batu apung, pasir batu, roadmetal,potassic, jarosit, tawas dan lainnya

Lempeng Tektonik

Tektonik Lempeng

Penyebab gempa bumi yang paling sering adalah karena pergeseran lempengan bumi (tektonik).Gempa tektonik terjadi karena gerakan dari berbagai lempengan bumi baik besar maupun kecil yang membentuk kerak bumi.Lapisan kerak bumi yang keras menjadi genting (lunak) dan akhirnya bergerak.

Teori dari tektonik lempeng (plate tectonic) menjelaskan, permukaan bumi ini terbagi atas kira-kira 20 pecahan besar yang disebut lempeng. Ketebalannya sekitar 70 km. Ketebalan lempeng kira-kira hampir sama dengan litosfer yang merupakan kulit terluar bumi yang padat. Litosfer terdiri atas kerak dan selubung atas.Lempengnya kaku dan lempeng-lempeng itu mengapung dan bergerak di atas astenosfer yang lebih cair.

Gerakan lempeng-lempeng tektonik diduga disebabkan oleh adanya arus konveksi di dalam lapisan mantel bumi.Arus konveksi yang diduga terbentuk akibat adanya pemanasan yang bersumber dari inti bumi tersebut, pada tempat-tempat tertentu naik ke permukaan, kemudian menyebar horisontal meninggalkan tempat naiknya. Di tempat lain arus itu masuk ke dalam mantel lagi. Arus itulah yang menghanyutkan lempeng-lempeng yang mengapung di atasnya.Maka, lempeng-lempeng selalu bergerak kadang-kadang gerakannya saling menjauhi (divergent), saling berbenturan (convergent), dan saling bergesekan.

Daerah tempat lempeng-lempeng itu saling bertemu disebut batas lempeng (plate boundary) yang dapat dilihat pada gambar 1.Ada tiga macam batas lempeng, yaitu pertama, batas lempeng divergen yang disebut juga pusat pemekaran (spreading centre).

Pada jalur ini arus konveksi naik ke permukaan kemudian menyebar ke samping, maka kerak bumi terbelah kemudian terseret ke samping meninggalkan pusat pemekarannya.Arus ke atas ini membawa serta bahan-bahan dari mantel bumi yang kemudian membeku sesampai di permukaan membentuk Igir Tengah Samudera (middle oceanic ridge).Kerak yang baru terbentuk itu adalah kerak samudera.Dengan demikian, berarti kerak samudera selalu bertambah pada pusat pemekaran

Kedua, batas lempeng konvergen yang disebut juga zona penunjaman atau subduksi (subduction zone).Pada zone ini arus konveksi masuk kembali ke dalam mantel.Maka, lempeng-lempeng yang hanyut di antaranya saling mendekat dan berbenturan (convergent).Lempeng samudera yang densitasnya lebih besar mengalami penunjaman (menukik masuk ke dalam mantel bumi), kemudian lebur ditelan oleh cairan mantel bumi.

Endapan laut asal darat yang menempel di atasnya dibawa masuk ke dalam bumi.Namun, sebelum sampai ke dalam bumi, lapisan endapan laut yang bersifat granitis itu telah mengalami peleburan (melting) menjadi magma granitis.Magma cair itu kemudian menyusup ke dalam lempeng benua yang berada di atasnya menjadi batuan intrusif atau plutonik. Bila tekannya cukup besar, magma yang terbentuk itu dapat mencapai permukaan bumi sebagai gunung api.

Lempeng benua karena berat jenisnya lebih rendah daripada lempeng  samudera, maka tak pernah mengalami subduksi melainkan akan naik di atas lempeng samudera sambil terlipat, tersesar. Dan, tertelankan membentuk pegunungan-pegunungan di permukaan bumi dengan batuan plutonik-granitik sebagai intinya. Bila yang muncul adalah gejala vulkanisme, maka terbentuklah sederetan gunung-gunung api seperti di Indonesia.

Pada jalur benturannya ditandai dengan terbentuknya palung laut dalam, semakin ke arah benua dijumpai berturut-turut igir bawah laut (submarine ridge) nonvulkanis yang berupa rangkaian pulau-pulau kemudian daerah cekungan belakang yang relatif sudah stabil.

Daerah cekungan belakang ini pada umumnya merupakan zona deposit hidrokarbon yang sangat potensial, seperti di laut Jawa. Contoh zona subduksi yang sangat besar di Indonesia adalah subduksi lempeng samudera Hindia-Australia yang menukik di bawah lempeng benua Eurasia membentuk palung laut selatan P Jawa, rangkaian busur nonvulkanik di pulau-pulau sebelah barat Sumatera, rantai gunung berapi memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, kemudian berbelok ke utara menuju Pulau Maluku, dan berlanjut ke Pulau Sulawesi. Penunjaman ini pula yang menyebabkan gempa sering terjadi di Indonesia.

Bila yang berkonvergensi dua lempeng benua, maka tidak terjadi subduksi, sebab keduanya akan terangkat ke atas dan saling bertautan (bersenyawa) bagaikan jahitan pada bekas luka operasi medis membentuk pegunungan tinggi, seperti pegunungan Himalaya. Dalam peristiwa ini tak timbul gejala vulkanik, karena tidak ada melting di dalam kerak bumi.Namun, benturan yang amat dahsyat itu mengakibatkan kerak bumi di sekitarnya retak-retak dan menjadi daerah yang sangat rawan gempa.

Ketiga, batas lempeng transform (transform bourding) atau patahan transform disebut juga batas lempeng pasif, karena di sini tidak terjadi konvergensi maupun divergensi.Sebuah lempeng terbelah kemudian saling bergesekan dengan arah yang berlawanan. Disebut patahan transform, karena suatu igir tiba-tiba berpasangan dengan lembah atau daratan. Tidak banyak gejala yang ditimbulkan pada batas lempeng transform ini kecuali sebagai pusat gempa.

Arus konveksi di dalam mantel bumi berjalan terus sepanjang masa.Kecepatan arus konveksi tak selalu ajeg.Suatu saat arus itu menyentak dengan kecepatan yang tinggi.Dalam kecepatannya yang wajar sehari-hari, gerakan lempeng sebagai akibat arus konveksi tak dikirakan manusia, tetapi bila kecepatan mendadak dengan kuat terhadap lempeng benua, maka bergeraklah kerak bumi di sekitarnya.

Peristiwa subduksi lempeng samudera berakibat banyak sekali, seperti pengangkatan, pelipatan, dan penyesaran kerak benua di atas zona subduksi.Pada peralihan antara kerak benua dan kerak samudera terjadi peleburan, penyusupan, penerobosan magma di permukaan bumi. Zona subduksi ini juga menjadi pusat gempa di samping pusat-pusat gempa yang terjadi pada kedua batas lempeng yang lain. Zona pusat gempa disebut juga zona Benioff.Zona Benioff di sebelah selatan P Jawa oleh JA Katili dinamai Benioff-Wadati.

Di samping akibat yang membahayakan, tektonik lempeng merupakan tenaga alam yang menghasilkan jebakan mineral. Menurut JA Katili, di Indonesia endapan yang berasosiasi dengan subduksi ini menduduki tempat yang penting. Busur kepulauan Indonesia adalah hasil interaksi dari benturan 3 blok kerak bumi atau lempeng raksasa, yaitu Hindia-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Sebagai contoh, endapan kromit dan nikel di Indonesia Timur berasosiasi dengan zona benturan Papua dan Sulawesi.

Endapan mineral yang berasosiasi dengan busur magmatik-vulkanik di Indonesia digolongkan dalam tipe endapan pirosomatik dan hidrotermal, termasuk di dalamnya endapan tembaga, perak, timah,  molibdenum, wolfram, antimon, emas, merkuri, mangan, dan kromium. Sedangkan, minyak bumi, gas alam, dan batubara ditemukan dalam cekungan busur belakang yang terletak di belakang busur vulkanik
Geologi Era
Karakteristik Hidup
Kenozoikum ('kehidupan akhir ")
Mamalia
Mesozoikum ("kehidupan tengah")
Reptil, dinosaurus
Paleozoikum ("awal kehidupan")
Invertebrata Kehidupan laut (kerang, dll), amfibi, tanaman darat pertama
Prakambrium
(Waktu sebelum Kambrium, periode geologi pertama dengan bercangkang keras fosil)
Tidak bercangkang keras fosil

Bukti pertama yang diajukan oleh Wegener adalah adanya kesamaan garis pantai antara Benua Amerika Selatan dengan Benua Afrika. Apabila kedua benua tersebut disatukan, maka garis pantainya akan serasi satu sama lain. Kemudian ia juga mengajukan bukti dokumentasi fosil Mesosaurus yang sejenis dan hanya ditemukan di kedua sisi benua tersebut. Diyakini bahwa Mesosaurus ini ketika hidupnya tidak akan dapat melintasi samudera yang luas di antara kedua benua ini. Sisa-sisa organisme yang ditemukan tampaknya menjadi bukti menyatunya dua benua ini selama Masa Paleozoikum dan Awal Mesozoikum.
Bukti selanjutnya, jajaran pegunungan yang terpotong oleh samudera.Gambar di bawah menunjukkan jajaran pegunungan pada kedua sisi Samudera Atlantik.Pegunungan Appalachia yang terpotong oleh pantai Newfoundland serupa dengan jajaran pegunungan di Kepulauan Inggris dan Scandinavia dalam hal struktur dan juga umurnya.
Bukti terakhir yang diajukan oleh Wegener, untuk mendukung hipotesisnya, adalah iklim masa lampau (ancient climates).Ketika benua-benua disusun menjadi satu untuk membentuk Pangaea, sisa dari material glasial menyatu membentuk pola seperti hamparan es yang menutupi kutub bumi kita hari ini.

sumber :
www.dunia-riska.blogspot.com

MATERI BAHASA INGGRIS

4. Pengayaan reading jenis-jenis teks
No.
Jenis Teks
Contoh Teks
1.
Procedure
How to make Lemonade 
Ingredients:
For each glass use:
- 2 tablespoons of lemon juice.
- 2 tablespoons of sugar.
- 1 glass of water.
Methods:
1. Slice a lemon in half and squeeze the juice into a cup.
2. Take out the seeds.
3. Pour two tablespoons of juice into glass.
4. Add sugar.
5. Add water and stir well.
6. Taste the lemonade. You may want to add more sugar or more lemon to make it taste just right.
7. Put it in ice cubes. A drop of red food coloring will make pink lemonade.
A CONE-SHAPED BASKET
Materials:
- Heavy paper
- Ribbon or string
- A plate
- A pencil
- Paste
Method:
1. Use a half circle of paper to make the cone basket.
2. Draw a whole circle on paper using a plate as the pattern to make a half circle.
3. Cut out the circle and fold it in half.
4. Cut the two halves apart along the fold.
5. Twist the half circle into a cone shape and it in place.
6. Use a ribbon or a string for the handle. Paste the ends of the ribbon in place.
7. Decorate your cone basket.
How to make Popcorn crunch
Materials:
- 1,5 cups of sugar wheat cereal
- 1 cup of golden syrup flaked almond
- 0,5 cup of butter
- 8 cup of popcorn already pop
- 2 cups of puffed
- 1 cup of toasted
- 1 teaspoon of vanilla
- 0,75 teaspoon of cinnamon
Time: 10 minutes
How to make it:
Place sugar and golden syrup in a heatproof dish, stir and cook until sugar is dissolved (approximately four minutes on high).
Add butter and cook for six minutes.
While this is cooking, place popcorn, puff wheat cereal, and almonds into a separate bowl.
Add cinnamon and vanilla to golden syrup mixture, combine syrup with popcorn, cereal and almonds and spread over a lighty greased 25 cetimeters x 30 centimeters baking tray.
Allow to cool and then cut into pieces.
Store in an airtight container.
HOW TO MAKE PEANUT CRUNCH
What you’ll need :
v     1 cup of peanuts
v     3 cups of brown sugar
v     2 tablespoons of vinegar
v     1 cup of water
What to do :
Place the sugar, water and vinegar into a large saucepan.
Stir slowly over a low heat until the sugar is disolved
Add peanuts , increase the heat and allow to boil
Remove from the heat when the nuts have craked and the mixture appears golden brown
Allow bubbles to settle
Spoon into small paper patty cases or pour the mixture into a flat greased pan and mark into bite-size pieces.
2.
Recount
CLASS PICNIC 
Last Friday our school went to Centennial Park for a picnic
First our teachers marked the rolls and the we got on the buses. On the buses, everyone was chatting and eating. When we arrived at the park, some students played cricket, some played cards but others went for a walk with the teachers. At lunchtime, we sat together and had our picnic. Finally, at two o’clock we left for school.
We had a great day.
3.
Descriptive
‘ISSIS’ Cafe. 
‘ISSIS’ is Javanese word meaning ‘cool’. So, besides the food, ISSIS Café offers a spacious, fully air-conditioned, cozy place.
Located at Jl. Cilacap No. 8, Jakarta Pusat, ISSIS Café is famous for its European food, especially steak, barbecue ribs, salad, and soup. You might find this kind of food anywhere else, but there is no other place that offers great meals at better prices than ISSIS Café.
You can enjoy a delicious imported sirloin steak for only Rp. 25,000 and ice cappuccino for only Rp. 5,500. There is also a salad bar with eight different vegetables. You can make your own salad which you can eat as much as you like, for only Rp. 12,000. The customers are mostly college students, office workers, and families.
4.
News Item
Undersea earthquake strikes off Maluku 
JAKARTA (AP): A strong earthquake struck in eastern Indonesian waters on Tuesday, a meteorological agency said. A local official said there was no threat of a destructive tsunami, and no damage or causalities were immediately reported.
The quake, which had a preliminary magnitude of 6.1, was centered beneath the Banda Sea around 188 kilometers (117 miles) southwest of Ambon, the capital of Maluku province, the U.S. Geological Survey said on its Web site.
The tremor was not felt by residents in the region and there were no reports of damage or casualties, said Aprilianto, an official at a Jakarta-based local Meteorological and Geophysics Agency.
5.
Report
Australia 
Australia is a large continent. It has six states and two territories.
The capital city of Australia is Canberra. It is in the Australian Capital Territory.
The population of Australia is about 20 million. The first inhabitants to live in Australia were Aboriginal people. After that people came from all over the world. The main language is English, however many other languages are spoken.
There are many plants and animals that are only found in Australia, e.g. kangaroos, platypuses, gum trees and Waratahs.
The main products and industries are wool, minerals, oil, coal, cereals and meat.
Some famous landmarks are the Harbour Bridge, the Opera House and Uluru (Ayers Rock).
2. Drugs
Drugs are chemical substances. There are three different types of drugs: stimulants, depressants and hallucinogens.
Stimulants speed up the central nervous system. They increase heart rate, blood pressure and breathing. Examples are caffeine, nicotine, amphetamines, ecstasy and cocaine.
Depressants slow down the central nervous system. They decrease heart and breathing rates. Alcohol, heroin and analgesics are common examples of these types of drugs.
Hallucinogens change mood, thought and senses. LSD is the most well-known example of this type of drug.
3.  A traditional market
A traditional market is the type of market where people can bargain the prices. The items sold in traditional market are basically the same. They are fruits, vegetables, meat and fish, spices, dry good and household items. At the glances, the market may seem to be disorganized mess.
Surrounding the market there are many small scale traders, usually selling fruits. This traders can not afford the cost of renting a stall inside the market.
On the first floor of the market, there are permanent kiosks and stall selling textile, stationery, clothing, electronic goods, household appliances, gold shops, etc.
On the second floor, people can buy meat and fish, fruits, vegetables, and dry goods. The sellers sell fruits and vegetables through the middle area. Meanwhile they sell dry goods in the edge area of the second floor
6.
Hortatory Exposition
Good morning, ladies and gentlemen 
Thank you very much for the House of Representatives which had invited me to give the speech concerning about the mystery sinetrons shown in many television presently. My name is Budi Santoso, a lecturer at University of Indonesia majoring in mass communication. Here, I represent the academics point of view about the subject we discuss this morning.
As we know, there are many mystery sinetrons shown on Television stations presently. The sinetrons depict horrible scenes about the spirit world. It is described that spirits often disturb people by frightening them in the darkness, when they walk alone at night or at the cemetery. The spirits are pictured as frightening appearance such as white clothes flying corpse, shattered face copse etc. the show must be abandoned for several reasons.
Firstly, it make a wrong perception of people especially children and women to do activity at nights, for example going to the wells, even cooking at kitchen alone. How do you fell if you always live in anxiety.
Thirdly, such kind of sinetrons waste out time to think unreal phenomena while we are facing many kinds of living problems.
In brief, for the reason, I think television station must stop showing mystery sinetrons. They are bad influences for people, frightening our children and destroying their belief to god.
Thank you very much for your attention.
7.
Analytical Exposition
SHOULD CHILDREN WEAR HATS AT SCHOOL?
(Statement of position): 
I believe that you should always wear a hat at school when you are playing outside , to stop you from getting sunburn.
(Argument 1):
Firstly, if you don’t wear a hat, you will get sunburn ant the sunburn is painful.
(Argument 2):
Secondly, sunburn could lead to skin cancer. Sunburn can lead to health problems later in life. Many older people suffer from skin cancer which can kill them.
(Reinforcement of position statement):
In my opinion all school students should wear hats.
8.
Spoof
One day, two villagers went to Jakarta. They went to the biggest mall and saw shiny silver walls that could open and move apart and back together. They were amazed when an old lady rolled in to the small room and the doors closed. A minute later, the doors opened and a young beautiful lady stepped out. The father said to his son “Go, get your mother now.”
The ending of the story is funny because they thought that the doors can change an old lady into a young beautiful lady. Whereas the doors were actually elevator doors.
9.
Explanation
How to Fly a Hot Air Balloon 
A hot air balloon consists of a basket, four big gas tanks, a burner and the balloon or ‘envelope’
First, four nylon poles are put into sockets on top of the basket. The burner is then put on top of the poles. Next, the cables are connected to the burner frame. The cables also go under the basket in order to hold everything together.
After this, the hoses from the full gas tanks must be connected to the burner so that pilot can test it.
Next, the mouth of the balloon is held open by two people while it is filled with cold air from the fan until it is quite fat and tight.
Now for the difficult bit. The pilot lies on the ground, half in the basket, turns on the gas burner, and points the flame into the ‘mouth’ of the balloon. This is so that the balloon slowly stands up.
When the it is ready to go, a bit more air is heated up the in the balloon. This results in the air in the balloon to be hot enough to get the balloon to rise off the ground
10.
Discussion
Euthanasia 
Euthanasia is the act of intentionally causing the painless death of a sick person. In terms of a physician’s actions, it can be passive in that a physician plays no direct role in the death of the person or it can be active in that the physician does something directly to cause the death. Now the question: Do you think it is right for a physician to refuse to participate in active euthanasia?
It is NEVER right for a physician or any one else to deliberately hasten a person’s death. This includes all forms of euthanasia-active and passive. To deliberately withhold food/fluids is to subject the person to a painful death-it is NOT a humane death. We are not in a position to determine the worth of a life. Every person has a soul-it is up to God to determine when he will take that soul from the shell that is the human body. We all have a duty to support life with ordinary means-food/fluids but we are not required to use extrordinary means-aggressive life support,dialysis,etc indefinitely.
O.K. now, euthanasia (I think) is a type of suicide, whether or not you are sick. Physicians absolutley have the choice of NOT participating, in fact it should not be legal!!! Now if you put someone to death who was sick, or heck they dont even have to be sick, but you would look at your self everyday and be reminded of it. i bet you would feel like a murderer. If people want to die they can commit suicide in their own homes, makin someone else do it is not going to make it any better morally. Euthanasia is a sad, sad deal, please try to stop it.
I believe if the person wants to die to end their life they should have the right to choose.I do not believe that the person should beable to have themselves killed if they’re not really suffering. Yes the person does have the right to kill him or herself. BUt the authourity stands in the way of that. If this is such a free country why can’t anyone participate in EUTHANASIA?
If we have the right (at least in the U.S) to do whatever we want to with our lives, whether it be rich and famous or an alcoholic crack head, why is it that we can not decide when our life should end? It is ours, if we can kill the life that grows inside us, we should be allowed to also destroy the life that harbors others. Especially if that person is in pain and requests that some end their suffering. I don’t think you can allow one law with out the either. A life is a life, right?
11.
Review
Get Married 
Illustrating the current situation happening in Indonesia, Get Married presents the figures of  unemployment. A few big-name celebrities show up in cameo roles. The movie tells about a true friendship of four youngsters Mae (Nirina Zubir), Guntoro (Desta ‘Club Eighties’), Eman (Aming), dan Beni (Ringgo Agus Rahman) who judge themselves as the most frustrated people in Indonesia. Soon, they turn out to be street kids and spend most of their times at street, bullying people who pass by.
.
Suddenly, it comes to a moment when Mae is persuaded to grant her parents’ wish to have a grandchild. Mae’s parents, (Meriam Bellina dan Jaja Mihardja) firmly state that Mae must get married in a little while. Soon, they are busy finding candidates who would marry their only  daughter. However, along the process of finding the right one for Mae, the three male friends of  Mae turn out to be brutal evaluators for the candidates. In the mean time, Mae falls badly in love  with Rendy (Richard Kevin), a rich, handsome and kind-hearted man. Unfortunately Rendy, Mae, Guntoro, Eman, Beni are brought into a misunderstanding, and soon fights break out between the two groups of Mae and Rendy.
Written based on some of youngsters’ real-life brotherhood experiences—this story will stir you to your emotional core while bringing out your sense of brotherhood. There are a lot of little things and big things that make this movie worth watching. The story is good, the banter is great, the relationships between the characters are great, and it’s a fun time at the movies. While some of the jokes are amusing, some of the fights go on a few bit too long.
12.
Narratives
Snow Maiden
Once upon a time there lived a couple in a village. They had got married for a long time, but so far they did not have a baby yet. Every single minute they prayed to God, begged for a baby, but it never came true.
One day, they went to snow mountain. They made a girl from snow and they dressed her beautifully. When it got dark, they decided to go home and left the snow girl alone. The following morning, someone knocked the door. \”Any body home?\”, she said. The old woman inside opened the door and asked, \”Who are you?\” The girl said \”I\’m Snow Maiden, your daughter\”. The old woman was surprised and happy. \”Oh really? Thanks God! Come in, please!\”
Since that meeting, they lived happily. Snow Maiden was beautiful, kind, diligent and helpful. Her parents and all of her friends loved her very much One day, Snow Maiden played with her friends. They played fire. At first, Snow Maiden just looked at their play. Suddenly, her friends asked her to jump on the fire. Of course she refused it because one thing that made her afraid was the fire. It\’s because Snow Maiden was made of snow, so she should avoid the fire. But her friends kept on forcing her to jump on. Finally, she could not do anything then she did it. She jumped on the fire and she melted. Her friends was so sorry about this, they cried and cried hoping Snow Maiden could live again, but it was useless. Snow Maiden would not be back anymore.
Her mother tried to entertain Snow Maiden\’s friends and asked them to make a new Snow Maiden. They went to a snow mountain and started making it. They expected to have the new Snow Maiden. Days passed but their dreams never came true. 
Malin Kundang
Once upon time, there was a boy named Malin Kundang. He lived with his mother in a very poor condition. They looked fire wood in the forest nearly to make a living. Malin Kundang was so unsatisfied with their bad luck. That’s why he decided to go to another city to look for a better life.
Not long afterwards, Malin asked his mother’s permission to go to a big city. He promised to come back soon with much money. His mother permitted him and always prayed for him. In his journey, Malin Kundang joined a merchant in a big ship.
Actually, Malin was a diligent boy. He worked hard to get much money and everything changed. He became a rich merchant. His business partner asked him to marry  his daughter. Malin agreed. Then Malin and his business partner’s daughter got married. They had honeymoon and traveled all over the world.
Many years later, Malin’s ship anchored in his village. Many villagers welcome his arrival and admired his glorious ship. Furthermore, they wanted to see his success. Malin’s mother heard that her son had come back. She was very glad and eager to see him. With a happy smile in her lips, she went to the seashore to meet her son. Do you know what happened when she met Malin? He pretended that he didn’t know her. Of course she was very very sad and disappointed.
In her desperation she cried to God to punish Malin. She cursed Malin Kundang and his ship to be a stone. Since then, people can see the big stone in the beach.
Keterangan : Diolah dari berbagai sumber
5.  Functional Skills
FUNCTIONAL SKILL
  1. Offering Help or Things (menawarkan bantuan / menawarkan sesuatu)
Untuk menawarkan bantuan, dapat digunakan ungkapan-ungkapan berikut:
- May I help you? 
- Can I help you?
- Could I help you?
- How can I be of assistance to you?
- How can I be of help to you?
- What can I help you
- What can I do for you? 
- How can I assist you?
- How can I help you?
- Let me help you?
- Do you want me to help you?
- Shall I …?
Cara memberi tawaran seperti menawarkan makanan atau minuman dalam bahasa Inggris lazimnya dengan menggunakan ungkapan Would you like…?, Would you care for …?, why don’t you have…?, How about having …? May I offer you …?
Contoh:
Tawaran Respon
- Would you like some bread?                                            Yes, please.
- Would you care for some coffee?                         No, thanks. I don’t drink coffee.
- Why don’t you have some biscuit, please?                        Thanks, I’d love to.
Jawaban untuk menerima tawaran antara lain: Yes please, Sure, Why not, Ofcourse, Certainly, I’d love to, It’s a good idea, That’s great. Untuk menolak tawaran digunakan ungkapan seperti: No, thanks, Please don’t bother, I’d love to but…, That’s great but…
  1. 2. Introducing (memperkenalkan)
Memperkenalkan Dri
Memperkenalkan Orang Lain
- I’d like to introduce myself.  
- My I introduce myself?
- Let me introduce myself!       
- I want to introduce myself
- I’d like you to meet … (nama)  
- This is my friend/boss/etc…(nama)
- Have you met…(nama)?
- May I introduce you to …(nama/jabatan)
- Let me introduce you to ….
- I want to introduce you to ….
  1. Inviting (mengundang/mengajak)

Undangan/Ajakan
Menolak
Menerima
- let’s + V1       
- Why don’t we …?    
- How about…?
- I’d like to invite you to…
- Would you like to…?
- I wonder if you’d like to
- I’m sorry I can’t 
- I’d like to but…
- I’m afraid I can’t
- No, let’s not.
- I’d love to  
- I’d like very much
- I’d be happy/glad to
accept
- Yes, I’d be delighted to.
- That’s good ide
  1. Expressing Thanks (terimakasih)
Ungkapan
Respon
Thank you 
Thank you very much
Thanks.
Thank you very much for… (kata benda)
I’m grateful for…(kata benda/noun)
You are welcome. 
That’s all right
Not at all
Don’t mention it
Thet’s all right
Any time
  1. Congratulations (ucapan selamat)
Ungkapan
Respon
Congratulations 
Congratulations on …
I’d like to congratulate you.
I’d like to congratulate you on…
It was great to hear…
It was to hear about….
Happy birthday to you.
Happy new year.
Good luck!
Have a nice holiday
Thank you 
Thank you and the same to you
Thank you. I need it.
Thank you very much.

  1. Sympathy (menyatakan rasa simpati)
Ungkapan-ungkapan perasaan simpati atas mala petaka/musibah yang dialami orang lain diantaranya:
  • I’m sorry to hear that
  • Oh, that’s too bad.
  • How awful!
  • How terrible!
  • Poor!
  1. Pleasure, Displeasure (senang & tidak senang)
Pleasure/senang
Displeasure/tidak senang
It’s really delightful/Iam delighted 
I’m satisfied
That’s great
That’s wonderful
It’s really a great pleasure
I’m dissatisfied 
We are fed up with…
I feel dosappointed
She is extremely displeased

  1. Satisfaction, Dissatisfaction ( kepuasan, ketidakpuasan)
Ketika kita akan mengungkapkan kepuasan atas kerja seseorang, kita dapat gunakan ungkapan:
  • Well done!
  • Great! Good work
  • I am satisfied with your work
  • You did well
  • Your job is satisfactory
  • I am so happy about this
  • I’m glad to what you’ve done
  • It’s really satisfying
Katika kita akan mengungkapkan ketidakpuasan atas kerja seseorang, kita dapat gunakan:
  • I’m not satisfied with work
  • You haven’t done well enough
  • I am really dissappointed
  • Sorry, but your work is not satisfactory
  • Oh, no!
  • It’s not very nice
  • It’s really not good enough
  1. Asking & Giving Opinion (meminta & memberi pendapat)
Asking Opinion
Giving opinion
How was the trip? 
How do you like your new house?
How do you think of Rina’s idea?
How do you feel about this dicition?
What is your opinions of the movie?
What are your feelings about it?
I think (that)…. 
In my opinion….
As I see, …
If you ask me, I feel…

10.  Agreement/approval, Disagreement/disapproval (setuju, tidak setuju)
Ketika kita merasa sependapat dengan opini orang lain, kita bisa mengatakan:
  • So do I
  • Yes, I agree with you
  • It is certainly
  • Exactly
  • That’s what I want to say
  • I am with you
  • I am on your side
Ketika kita merasa tidak sependapat dengan opini orang lain, kita bisa mengatakan:
  • Well, I don’t think so
  • I don’t think that is true
  • I disagree with …
  • I wouldn’t say that
  • Exactly not
  • I can’t say so
  • On contrary
  • I don’t buy that idea
11.  Fear, Anciety (ungkapan ketakutan, kegelisahan)
Fear
Respon
I am afraid 
I am feared
I am scared
I am terrified
The sound is horrifying
Don’t be afraid 
There is nothing to be afraid of
It is nothing

Anciety
Respon
I am worried about… 
I am anxious to know about…
I wondered if…
That made me worried
I have been thinking about ….
I am afraid if…
Take is easy 
Calm down
I know you are worried but…
It is not a big deal
Don’t worry
Stay cool
12.  Pain, Relief (ungkapan kesakitan, kelegaan)
Pain
Relief
Ouch! 
That was hurt
It is painful
It hurts me
I’ve got a backache/toothache/stomachache
I feel sore all over
My eyes hurt
I’m very relieved to hear… 
Finally, it was over
I feel relieved
I feel much better
I’m glad it’s over
That’s a great relief
I’m extremely glad to hear…
Thank goodness for that
Marvellous
What a relief!
13.  Like/Love & Dislike/Hate (suka/cinta & tidak suka/benci)
Like
Dislike
I love it 
I like it
I am keen on it
I am crazy about it
We all enjoy
(benda/noun/gerund)…is my cup of tea
I don’t really like it 
I dislike it
I am not really interested in…
I can’t enjoy…
(benda/noun/gerund)…is not my cup of tea
I can’t stand
I hate it
14.  Embarrassment & Annoyance (Ungkapan rasa malu, kejengkelan)
Embarrassment
Annoyance
I am embarrassed 
I feel ashamed
Oh my God
Shame on me
I don’t feel comfortable
I feel awkward
I am annoyed 
I had enough with it
I can’t bear it any longer
You made me annoyed
You are such a pain in the neck
You made me sick
15.  Request (permintaan)
Request
Acceptance
Refusal
Would it be possible for                                                      you to 
Would you be so kind as to
Would you…,please?
Would you mind …?
Any chance of…
Can you…?
I should be delighted to come 
By all means
I have no objection
I’d be happy to
Sure
Yeah
OK
No problem
Mmm
I regret to say that we find ourselves unable to go 
I’m afraid it’s not possible
I’m afraid not
Sorry
No, I won’t
Not likely
You must be joking
16.  Complaint, Blame (keluhan,menyalahkan)
Complaint
Blame
I’m not at all satisfied with the service 
I really do/must objec to the service
I take great exception to…
I want to complain about…
This is crazy!
You’re the one to blame 
It’s your fault!
It’s your mistake!
You’re wrong

17.  Regret, Apology (penyesalan, meminta maaf)
Regret
Apology
Much to my regret 
Sadly, I ….
Unfortunately
I’m terribly sorry
I honestly regret that I …
Sorry, I …
Please accept my apologies for what I did 
Please forgive me for what I did
I am extremely sorry
I really must apologies
May I offer you my sincerest apologies?
18.  Possibility & Impossibility (kemungkinan & ketidakmungkinan)
Menyatakan Kemungkinan
Menanyakan Kemungkinan
I think there is possibility to … 
I sassume/believe…
In all probability,…
it is going to be possible for me to…
that will probably …
it’s quite possible …
Do you think he/it could…? 
Would you say we’re capable of…?
Are you capable of…?
Are you able to…?
Do you have any experience of…?
Can you…?
Do you know how to…?
Do you think you can…?